Pada suatu waktu, Indonesia sangat disegani dunia internasional. Indonesia menjadi pusat perdagangan dan bahkan dikenal sebagai saudara tua oleh bangsa asing. Bahkan pemimpin-pemimpin dunia terdahulu sangat hormat terhadap bangsa ini. Misalnya saja John F. Kennedy yang membawa perasaan segan dan menunduk hormat apabila bertemu Bung Karno karena merasa kalah pamor. Namun itu dulu, kini, George W. Bush datang hanya beberapa jam membawa arogansi yang tinggi bergaya menghina bangsa ini, sungguh ironis.
Bung Karno dan Pak Harto menjadi orang yang sangat disegani pada waktu itu. Mereka dianggap sebagai sesepuh yang patut dihormati di seluruh dunia. Kondisi tersebut kini berbalik total. Indonesia menjadi bangsa nomor sekian di dunia. Harkat dan martabat kita sering dilecehkan, bangsa ini menjadi kian terpuruk. Belum ada lagi pemimpin yang disegani seperti Bung Karno dan Pak Harto. Krisis kepemimpinan yang sedang melanda negeri ini menjadi salah satu hal yang harus disoroti selain sistem demokrasi yang juga salah diterapkan di Indonesia.
Tanpa disadari, terdapat jurang pemisah antara pemimpin satu dengan yang lain. Sesama mantan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya saling menjegal. Padahal kita semua tahu mereka pasti sangat mencintai bangsa ini dan ingin melihat bangsa ini maju dan berpengaruh di mata dunia. Alagkah baiknya apabila para pemimpin-pemimpin kita ini bersatu dan membentuk ikatan yang kuat sehingga dapat menghasilkan kekuatan yang sangat dahsyat untuk bangsa ini. Andai saja mereka mau berpikir lebih jernih dan menatap maju ke depan, tentunya kita akan melihat bangsa yang sudah besar ini menjadi lebih besar. Itulah mengapa Indonesia dianggap sedang mengalami krisis kepemimpinan.
Kriteria pemimpin yang dibutuhkan Indonesia sangatlah sulit dicari. Idealnya, pemimpin Indonesia itu adalah gabungan dari Bung Karno yang seorang orator, jago strategi seperti Pak Harto, mempunyai kecerdasan yang tinggi seperti Habibie, agamis seperti Gusdur, keibuan seperti Megawati, dan berwibawa seperti SBY. Apabila mereka semua digabungkan Indonesia akan menjadi negara yang hebat dipimpin oleh pemimpin yang luar biasa.
Andai saja ada satu forum atau perkumpulan yang berisi mantan-mantan presiden Indonesia ataupun pemimpin-pemimpin lainnya, pasti ikatan sesama pemimpin tersebut menghasilkan kekuatan yang sangat dahsyat bagi bangsa ini. Kita pasti sangat menginginkan suatu saat nanti BJ.Habibie, GusDur, Megawati, SBY bergandengan tangan dalam suatu forum dan berkomitmen bersama-sama membangun Indonesia. Tentu itu akan berdampak sangat luas bagi kemajuan bangsa ini.
Hal ini sebetulnya sudah mulai dipraktekan oleh elite-elite tingkat bawah. Daerah Jawa Barat misalnya, terciptanya komunikasi yang baik antara gubernur yang menjabat dengan gubernur sebelumnya membuat Jawa Barat menjadi kuat secara kepemimpinan sehingga daerah ini diprediksi akan menjadi salah satu daerah yang maju. Ini dapat dijadikan contoh oleh daerah lain terutama oleh negeri kita sendiri agar dapat membangun sistem komunikasi dan kepemimpinan yang kuat. Tidak ada lagi yang merasa dirinyalah yang paling pantas memimpin. Apabila dikerjakan bersama-sama pasti semua masalah akan terselesaikan dengan mudah.
Faktor lain yang menyebabkan terpuruknya Indonesia adalah sistem demokrasi yang salah. Sistem multi partai tidak cocok untuk diterapkan pada negara berkembang seperti Indonesia. Sistem multi partai berakibat semakin ranggangnya hubungan persaudaraan dan kesatuan antar warga negara. Semakin banyak partai membuat negara ini kian rumit. Masing-masing partai mempunyai program dan agenda sendiri. Benturan kepentingan antar partai dan bentrokan antar pendukung partai menjadi dampak dari diterapkannya sistem multi partai.
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris hanya menerapkan system dwi partai. Di Amerika sendiri hanya ada partai republik dan partai demokrat sedangkan di Inggris hanya ada partai konservatif dan partai buruh. Dalam ajaran islam pun hanya diajarkan dua partai, Hizbullah dan Hizbusyaitan. Sistem dwi partai inilah yang sebetulnya cocok diterapkan di negara seperti Indonesia. Apalagi Indonesia masih tergolong negara yang sedang berkembang. Tidak perlu lagi kita melihat sesama penduduk Indonesia bercerai-berai dipenuhi pertikaian dan pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan. Apabila terus –menerus seperti itu, kapan kita membangun bangsa ini?
Krisis yang sedang terjadi dapat kita hapus apabila kita semua bergandengan tangan bersatu membangun Indonesia dan sedikit merubah tatanan demokrasi yang sudah ada. Apabila para pemimpin kita masih belum mau bersatu biarlah persatuan itu kita mulai dari bawah. Biarlah kita yang menjadi pemimpin untuk negeri sendiri. Jangan biarkan negeri ini hancur dan menjadi bahan pelecehan dunia. Belajarlah dengan bijak dan perbaiki kesalahan yang ada. Bangkit Indonesia !