Monday, 21 July 2008

Ujungberung Yang Mempesona


Ujungberung memang mempesona. Di Bukit batu tepatnya, bahkan tempat ini bisa mengalahkan bukit bintang. tiada orang yang tahu kalau ujungberung memiliki potensi keindahan alam yang luar biasa. walaupun terlihat seperti padang pasir, tetapi memang itulah keunggulan dan kelebihannya. Tidak akan pernah ditemukan di tempat lain selain ujungberung. yeah!! berwisatalah saudara-saudara. mari kita kunjungi pesona Ujungberung di Bandung timur!!!

Band Band ung

Kita ngomongin musik sekarang. Band gw daisy bubar. Gak jelas deh masalahnya. Mungkin mereka terlalu lama nungguin gw selese SMA. Padahal udah ada produser yang mau ngelambungin kita. Bahkan kita udah bikin demo. ahh sayang banget. A Eris minggat ke Tasik. Personel lainnya ntahlah lari kmana. Si jojon kayanya mulai ga suka juga ama gw. ntahlah, gw juga bingung salah gw apa. Masalahnya jadi kompleks sejak kita ganti-ganti personel. Bahkan gw sempet didepak dari band ini sebelum akhirnya kembali lagi. Well, sekarang band ini bener-bener ilang. Lagu-lagu kita ntahlah. Padahal gw yakin kalo band ini masuk pasaran bakal seengganya nyaingin Andra&The Backbone lah soalnya musik kita deket-deket ama mereka. Hmm.. Gw, Eris, jojon, odet, deni, dan semua personel pengganti, banyak banget kenangan sama kalian. Ahh I’ll miss u all so much guys.. you’re my friend forever.

Di Depok


Well, gw di Depok sekarang. Kota panas yang penuh dengan sejuta keindahan yang ada di dalamnya. Gw gatau harus kmana di sini. Maklum orang baru. Boro-boro Depok sih, Bandung aja belum gw kenal semua.hehe Di sini yang namanya panas ga kira-kira. Asem-asem gitulah ahh pedes-pedes ntahlah. Pokonya nyamuk ga bisa diajak kompromi. Dikasih baygon yang satu mati, temen-temennya dateng trus gigit-gigit ah asem deh! Gw gak tau ngladenin nyamuk di sini gimana.

Oke. Di kosan gw, tepatnya di apartemen samping kosan, ada kasus mutilasi. Serem banget. Apalagi yang dimutilasi seorang homo dan tersangkanya adalah pasangan homonya. Hahah.. aduh bikin gelisah aja. Gimana nih, apakah gw korban berikutnya?? Oh no! hoho.. yap. temen kosan gw dari medan ketar-ketir , dia langsung sms gw. Haha sabar ya bang sebelum gw jadi korban kan gw bisa tanya-tanya dulu.hoho..

Tentang Ditilang

Ini surat pembaca yang gw bikin, tapi ga dimuat. YEAH!

Saya adalah seorang pelajar yang sehari-hari selalu menggunakan sepeda motor ke sekolah. Saya sudah tahu polisi di depan heritage sudah terkenal di kalangan teman-teman saya karena setiap lewat sana teman-teman saya selalu bilang, “awas polisi di sini mah rese.” Begitu terkenalnya! Dan kejadian itu betul-betul saya alami pada Senin, 16 Juni lalu.

Kejadiannya bermula pada saat saya datang dari arah BIP menuju heritage. Di lampu merah saya berhenti di tengah-tengah jalur dan berada sendirian sebelum kendaraan yang lain menyusul di belakang. Tidak lama kemudian lampu hijau pun menyala dan kami melaju. Tetapi kemudian tiba-tiba kami diberhentikan oleh polisi yang berada di depan heritage.Ketika kami menanyakan masalahnya beliau berkata bahwa kendaraan saya salah jalur, karena berada di jalur kiri yang seharusnya belok kiri langsung dan menghalangi mobil yang akan belok langsung. Karena tidak merasa, saya pun menyangkalnya, “tapi kan tidak ada mobil pak!” beliau berkata “ada, tapi kamu gak melihatnya saja.” Saya berfikir seandainya ada mobil pun pasti akan membunyikan klakson dan lagi pula saya tidak berada di jalur kiri. Tetapi akhirnya saya pun dibawa ke pos yang ada di sana.

Ketika masuk ke dalam pos, saya melihat ada polisi yang badannya sangat-sangat tambun. Saya tersenyum sendiri melihatnya. Bagaimana mungkin ada seorang polisi yang badannya sangatlah tambun! Gile! Bagaimana kalau mengejar penjahat! Saya langsung tersenyum heran melihatnya. kemudian Beliau bertanya apakah tanggal 27 ada waktu untuk sidang. Saya jawab tidak. Karena tanggal sekian saya harus pergi ke Jakarta. Kemudian beliau menawarkan bantuan sidang yang akan diwakilkan oleh beliau dengan biaya sidang sebesar Rp. 42.600 saya pun menyanggupinya dan memberikan uang sejumlah Rp. 50.000 namun beliau bertanya “tidak ada uang pas saja?, tidak apa-apalah RP40.000 saja.” kemudian saya mengeluarkan uang receh yang hanya Rp.30.000. beliau berkata lagi, “ ya sudah segitu saja.” kami pun keheranan, kok bisa berkurang biaya sidangnya?? Dan akhirnya kami memberikan uang tersebut dan diperbolehkan pergi. Kemudian saya bilang kepada teman saya “tuh kan rese polisi di san amah!” teman saya pun setuju.

Saya heran, apakah kesalahan sekecil itu harus ditilang? Apalagi keesokan harinya saya mebaca di surat kabar ini bahwa polisi sedang menyelenggarakan program seribu senyum dalam rangka memperingati hari ulang tahun bhayangkara yang juga menyatakan bahwa kesalahan kecil hanya akan diperingatkan, tidak ditilang dan hanya yang membahayakan kendaraan bermotor lain yang akan di tilang. Bagaimana pak Kapolda? Rese sekali polisi di sana??

Menempuh Jalan Menjadi Jurnalis Profesional


Ini adalah resensi buku favorit gw yang gw bikin waktu kelas 1 SMA.


Aktifitas jurnalistik di Indonesia dapat dilacak jauh ke belakang tepatnya pada abad ke 18 yaitu tahun 1744, ketika sebuah surat kabar bernama Bataviasche Nouvelles diterbitkan dengan penguasaan orang-orang Belanda. Surat kabar ini masih dikelola oleh orang-orang Belanda dan tentunya masih memakai bahasa Belanda. Jurnalistik koran-koran Belanda ini membawakan suara pemerintahan kolonial Belanda.

Buku ini memaparkan sejarah-sejarah lainnya seperti, munculnya surat kabar pertama milik Indonesia di Bandung tahun 1907, Yaitu Medan Prijaji. Surat kabar ini dikelola oleh Tirto Hadisurjo dengan modal dari bangsa Indonesia untuk bangsa Indonesia. Pada mulanya Medan Prijaji berbentuk mingguan, baru tiga tahun kemudian, tapatnya 1910 berubah menjadi surat kabar harian. Medan Prijaji dianggap sebagai pelopor yang meletakan dasar-dasar jurnalistik modern di Indonesia.

Dalam pandangan awam, jurnalistik dan pers seolah sama atau bisa dipertukarkan satu sama lain. Sesungguhnya tidak, Jurnalistik menunjuk pada proses kegiatan, sedangkan pers berhubungan dengan media. Dengan demikian, jurnalistik pers berarti proses kegiatan mencari, menggali, mengumpulkan, mengolah, memuat, dan menyebarkan berita melalui media berkala pers seperti surat kabar, dll.

Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional. Dari judul tersebut, pembaca sudah bisa membayangkan seperti apa buku yang diterbitkan oleh Simbiosa Rekatama Media ini. Buku yang memandu pembacanya untuk mempelajari lebih dalam mengenai hal-hal yang berbau jurnalistik. Dari mulai ruang lingkup pers sampai hukum dan etika pers semuanya dipaparkan dengan jelas di buku ini.

Buku ini pun menggunakan bahasa yang sangat komunikatif dan mudah dicerna oleh pembacanya. Penulis tidak segan untuk menggunakan kata ganti orang bagi penulis sendiri. Seperti, “Menurut guru saya, di Indonesia jurnalistik.....“ (hal 19). Buku ini pun memaparkan trik-trik untuk menjadi seorang jurnalis profesional secara praktis sehingga tidak banyak menghabiskan waktu untuk membacanya.

Berita sudah menjadi makanan sehari-hari bagi orang-orang di seluruh dunia. Jadi, penulisan berita sangat diperhatikan agar tidak muncul kesalahan berita.

Tentang Buku

Judul

Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature Panduan praktis jurnalis profesional

Penulis

Drs. AS Haris Sumadiria M.Si

Penerbit

Simbiosa Rekatama Media

Tebal

286 + xvii halaman

Indonesiaku

Ini adalah tulisan gw waktu kelas 1 SMA. gila. kereeen bgt!!


Belanda menjajah Indonesia sampai tiga setengah abad. Luar biasa Indonesia untuk lepas dari penjajahan yang begitu lama atau kalau dihitung lamanya bisa mencapai enam generasi. Wuih, untuk apa Belanda berlama-lama di Indonesia? Toh, yang kita ketahui sekarang Indonesia itu carut-marut. Apa yang mereka harapkan dari bangsa ini?

Indonesia ini negara yang kaya. Itu yang harus kita sadari sebagai warga bangsa ini. Bangsa lain berlomba-lomba menguasai Indonesia hanya untuk mendapatkan hasil dari kekayaan alam kita. Bahkan Inggris dan Jepang sampai ikut-ikutan ingin menguasai sumber daya alam yang terdapat di Indonesia.

Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangat beragam baik itu sumber daya alam hayati maupun hasil tambang. Sumber daya alam hayati terutama sumber daya alam nabati-lah yang sangat dicari atau diinginkan oleh bangsa lain. Mereka berlomba-lomba ingin menguasai tempat-tempat penghasil SDA tersebut.

Sebagai bangsa Indonesia kita seharusnya sadar akan hal ini. Kita yang punya, kita yang jaga. Mengelola SDA tersebut memang sulit tetapi mungkin untuk dikerjakan. Toh, bangsa lain saja bisa, mengapa kita tidak? Kita ambil contoh tambang emas Freeport yang ada di Papua. Mengapa kita memberikan kekuasaan pada Amerika Serikat untuk mengelolanya? Apa kita tidak bisa mengelolanya sendiri? Terbukti akhir-akhir ini sering terdengar protes tentang pengelolaan tambang emas tersebut yang sama sekali tidak menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Salah siapa? Yang pasti awalnya merupakan salah kita sendiri. Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia apakah tidak ada yang bisa mengelola tambang emas tersebut? Kita harus pertanyakan kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Itu artinya Indonesia masih lemah atau sama saja dengan beranggapan biarlah orang lain yang kaya kita miskin saja.

Berbicara tentang sumber daya manusia Indonesia mungkin kita juga masih harus meringis. Begitu sulitnya pemerintah kita merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Padahal suatu bangsa itu tidak dapat maju tanpa didukung kualitas sumber daya manusianya. Untuk mengelola suatu sumber daya alam maka diperlukan manusia yang berkualitas. Pantas saja kita masih kalah jauh dibandingkan dengan negara seperti Jepang ataupun Korea, bahkan dengan Malaysia saja kita masih tertinggal. Mengapa? Karena pemerintah kita kurang mendukung untuk menaikan kualitas sumber daya manusia kita. Seperti yang telah disebutkan di atas, untuk merealisasikan anggaran pendidikan seperti itu saja sulitnya luar biasa.

Selain itu mahalnya biaya untuk bersekolah juga menjadi penghambat terbentuknya manusia berkualitas di Indonesia. Mengambil dari salah satu slogan iklan sebuah produk di Indonesia ‘mau pintar kok mahal, tanya kenapa?’. Mungkin slogan tersebut sepele, tetapi menyimpan makna yang sangat mendalam. Slogan tersebut mempunyai arti bahwa bersekolah itu hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berkantong tebal saja. Yang tidak punya uang dilarang bersekolah. Lucu bukan? Pantas saja negara kita masih kacau. Toh, yang boleh pintar hanya orang-orang yang berduit saja yang belum tentu juga terjamin kualitasnya. Itu juga merupakan salah satu bukti bahwa pemerintah kurang mendukung pendidikan di Indonesia.

Peran guru. Ya, peran guru sangat penting untuk menentukan jalur kesuksesan manusia. Mereka mencurahkan segala ilmu dan pikirannya demi mencerdaskan anak didiknya. Mereka rela hanya ‘menunggang sepeda’ untuk pergi mengajar ketika anak didiknya menggunakan kendaraan bermotor. Seharusnya kita sadar akan hal ini, orang tua kita di sekolah itu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya walaupun terasa sangat melelahkan. apakah tidak terbersit di benak kita untuk memberikan yang terbaik juga bagi mereka?

Nampaknya kebanyakan dari kita menjawab TIDAK. Hal ini bisa kita buktikan dari tidak adanya upaya dari pemerintah untuk mensejahterakan guru atau setidaknya membiarkan guru bekerja dengan tenang tidak memikirkan anaknya yang juga harus bersekolah. Sepertinya pemerintah acuh tak acuh saja terhadap nasib para guru. (padahal mereka juga dulunya diajar oleh guru.). Bahkan baru-baru ini muncul berita tentang ketidakadilan dari salah satu pemerintah kota yang ada di Jawa Barat dalam memberikan tunjangan. Anggota DPRD kota tersebut diberikan tunjangan sebesar 6,3 juta/bulan, sedangkan para guru ‘hanya’ diberi tunjangan sebesar 50ribu perak! Bahkan pembayarannya sering telat pula. Benar-benar tidak adil. Bahkan perbandingan nilainya pun terlalu jauh.

Kita seharusnya mencontoh negara Meksiko. Presiden mereka beserta menteri-menterinya adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka rela memotong gaji mereka sendiri untuk membantu bidang lain di negara tersebut. Pantas saja pemerintah kita tidak pernah melakukan studi banding ke Meksiko. Toh, pejabat kita mana ada yang mau dipotong gajinya sebab pikiran mereka sudah melayang membumbung tinggi bersama uang dan kenaikan gaji setiap tahun.

Mengapa saya terus mengkritik pemerintah? Yah, buktinya saja sudah jelas seperti itu. Seharusnya pemerintah kita berpikir ke depan atau dengan kata lain berivestasi untuk masa depan. Kita kembali lagi ke bahasan tentang dana pendidikan, pemerintah menganggarkan dana sebesar 20% dari APBN itu tentunya sangat baik untuk Indonesia ke depan. Biarlah kita sekarang mengeluarkan dana yang besar untuk pendidikan tetapi nanti 5-10 tahun ke depan kita akan menikmati hasilnya, kita akan memiliki manusia berkualitas asli buatan Indonesia yang tentunya akan sangat bermanfaat. Jangan seperti pada masa pemerintahan Soeharto. Beliau memimpin bangsa ini sampai 32 tahun tanpa ada yang menggantikan. Itu artinya Soeharto tidak bisa mendidik bangsanya untuk menjadi pemimpin.

Dalam hal menghormati guru, Seharusnya kita dapat mencontoh seperti yang ada dalam cerita guru saya ini ketika sedang mengikuti perlombaan di Korea Selatan. Pada saat itu guru saya tersebut sedang mengadakan pertemuan dengan salah seorang warga dari Korea Selatan. Awalnya orang tersebut acuh tak acuh terhadap guru saya. Tetapi kita guru saya mengucapkan bahwa dia adalah seorang guru dari Indonesia, orang tersebut terkejut dan tiba-tiba membungkukan badannya sampai setengah badan untuk memberi hormat. Luar biasa bukan? Cerita tersebut dapat menggambarkan bahwa negara yang maju adalah negara yang sangat menghargai gurunya. Bahkan untuk hal yang mungkin menurut kita sangat sepele.

Apakah kita sudah seperti itu? Nampaknya masih sangat jauh. Terbukti gaji guru kita pun masih sangat minim. Pantas saja ketika saya tanyakan kepada teman-teman saya apa cita-cita mereka kelak, tidak ada satupun yang menjawab ingin menjadi guru. Alasan mereka, gajinya kecil. Loh, bagaimana nanti nasib anak-anak kita bila sekarang tidak ada yang mau menjadi guru? Mau apa bangsa ini tanpa guru? Nah, kalau sudah begitu kita juga kan yang rugi. Sudah saatnya kini Indonesia menempatkan pendidikan di atas segala-galanya. Ayo, majulah Indonesiaku!

Sunday, 20 July 2008

Dua posting gw di bawah adalah tugas OKK UI yang gw kirimin..


Dicari, Pemimpin Indonesia Baru

Pada suatu waktu, Indonesia sangat disegani dunia internasional. Indonesia menjadi pusat perdagangan dan bahkan dikenal sebagai saudara tua oleh bangsa asing. Bahkan pemimpin-pemimpin dunia terdahulu sangat hormat terhadap bangsa ini. Misalnya saja John F. Kennedy yang membawa perasaan segan dan menunduk hormat apabila bertemu Bung Karno karena merasa kalah pamor. Namun itu dulu, kini, George W. Bush datang hanya beberapa jam membawa arogansi yang tinggi bergaya menghina bangsa ini, sungguh ironis.

Bung Karno dan Pak Harto menjadi orang yang sangat disegani pada waktu itu. Mereka dianggap sebagai sesepuh yang patut dihormati di seluruh dunia. Kondisi tersebut kini berbalik total. Indonesia menjadi bangsa nomor sekian di dunia. Harkat dan martabat kita sering dilecehkan, bangsa ini menjadi kian terpuruk. Belum ada lagi pemimpin yang disegani seperti Bung Karno dan Pak Harto. Krisis kepemimpinan yang sedang melanda negeri ini menjadi salah satu hal yang harus disoroti selain sistem demokrasi yang juga salah diterapkan di Indonesia.

Tanpa disadari, terdapat jurang pemisah antara pemimpin satu dengan yang lain. Sesama mantan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya saling menjegal. Padahal kita semua tahu mereka pasti sangat mencintai bangsa ini dan ingin melihat bangsa ini maju dan berpengaruh di mata dunia. Alagkah baiknya apabila para pemimpin-pemimpin kita ini bersatu dan membentuk ikatan yang kuat sehingga dapat menghasilkan kekuatan yang sangat dahsyat untuk bangsa ini. Andai saja mereka mau berpikir lebih jernih dan menatap maju ke depan, tentunya kita akan melihat bangsa yang sudah besar ini menjadi lebih besar. Itulah mengapa Indonesia dianggap sedang mengalami krisis kepemimpinan.

Kriteria pemimpin yang dibutuhkan Indonesia sangatlah sulit dicari. Idealnya, pemimpin Indonesia itu adalah gabungan dari Bung Karno yang seorang orator, jago strategi seperti Pak Harto, mempunyai kecerdasan yang tinggi seperti Habibie, agamis seperti Gusdur, keibuan seperti Megawati, dan berwibawa seperti SBY. Apabila mereka semua digabungkan Indonesia akan menjadi negara yang hebat dipimpin oleh pemimpin yang luar biasa.

Andai saja ada satu forum atau perkumpulan yang berisi mantan-mantan presiden Indonesia ataupun pemimpin-pemimpin lainnya, pasti ikatan sesama pemimpin tersebut menghasilkan kekuatan yang sangat dahsyat bagi bangsa ini. Kita pasti sangat menginginkan suatu saat nanti BJ.Habibie, GusDur, Megawati, SBY bergandengan tangan dalam suatu forum dan berkomitmen bersama-sama membangun Indonesia. Tentu itu akan berdampak sangat luas bagi kemajuan bangsa ini.

Hal ini sebetulnya sudah mulai dipraktekan oleh elite-elite tingkat bawah. Daerah Jawa Barat misalnya, terciptanya komunikasi yang baik antara gubernur yang menjabat dengan gubernur sebelumnya membuat Jawa Barat menjadi kuat secara kepemimpinan sehingga daerah ini diprediksi akan menjadi salah satu daerah yang maju. Ini dapat dijadikan contoh oleh daerah lain terutama oleh negeri kita sendiri agar dapat membangun sistem komunikasi dan kepemimpinan yang kuat. Tidak ada lagi yang merasa dirinyalah yang paling pantas memimpin. Apabila dikerjakan bersama-sama pasti semua masalah akan terselesaikan dengan mudah.

Faktor lain yang menyebabkan terpuruknya Indonesia adalah sistem demokrasi yang salah. Sistem multi partai tidak cocok untuk diterapkan pada negara berkembang seperti Indonesia. Sistem multi partai berakibat semakin ranggangnya hubungan persaudaraan dan kesatuan antar warga negara. Semakin banyak partai membuat negara ini kian rumit. Masing-masing partai mempunyai program dan agenda sendiri. Benturan kepentingan antar partai dan bentrokan antar pendukung partai menjadi dampak dari diterapkannya sistem multi partai.

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris hanya menerapkan system dwi partai. Di Amerika sendiri hanya ada partai republik dan partai demokrat sedangkan di Inggris hanya ada partai konservatif dan partai buruh. Dalam ajaran islam pun hanya diajarkan dua partai, Hizbullah dan Hizbusyaitan. Sistem dwi partai inilah yang sebetulnya cocok diterapkan di negara seperti Indonesia. Apalagi Indonesia masih tergolong negara yang sedang berkembang. Tidak perlu lagi kita melihat sesama penduduk Indonesia bercerai-berai dipenuhi pertikaian dan pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan. Apabila terus –menerus seperti itu, kapan kita membangun bangsa ini?

Krisis yang sedang terjadi dapat kita hapus apabila kita semua bergandengan tangan bersatu membangun Indonesia dan sedikit merubah tatanan demokrasi yang sudah ada. Apabila para pemimpin kita masih belum mau bersatu biarlah persatuan itu kita mulai dari bawah. Biarlah kita yang menjadi pemimpin untuk negeri sendiri. Jangan biarkan negeri ini hancur dan menjadi bahan pelecehan dunia. Belajarlah dengan bijak dan perbaiki kesalahan yang ada. Bangkit Indonesia !
ANDAI AKU SEORANG PRESIDEN

ANDAI AKU SEORANG PRESIDEN
AKU AKAN MEMBAHAGIAKAN RAKYATKU
TAK HANYA MEMBERIKAN SENYUMAN PALSU
KARENA KU TAHU
MEREKA ADALAH JIWAKU

ANDAI AKU SEORANG PRESIDEN
KUBANGUN NEGERIKU MAJU
KAN KUHAPUS AIR MATAKU
AGAR KU BISA MELIHAT
SENYUM HARU
RAKYATKU

ANDAI AKU SEORANG PRESIDEN
KUKIBARKAN MERAH PUTIH KU
KUNYANYIKAN INDONESIA RAYA KU
KAN KUSAMPAIKAN KE PENJURU DUNIA
INILAH NEGERIKU
INILAH INDONESIA BARU

rezaalfiandri.blogspot.com

always do right. this will gratify some people and astonish the rest.
mark twain