Monday, 21 July 2008

Indonesiaku

Ini adalah tulisan gw waktu kelas 1 SMA. gila. kereeen bgt!!


Belanda menjajah Indonesia sampai tiga setengah abad. Luar biasa Indonesia untuk lepas dari penjajahan yang begitu lama atau kalau dihitung lamanya bisa mencapai enam generasi. Wuih, untuk apa Belanda berlama-lama di Indonesia? Toh, yang kita ketahui sekarang Indonesia itu carut-marut. Apa yang mereka harapkan dari bangsa ini?

Indonesia ini negara yang kaya. Itu yang harus kita sadari sebagai warga bangsa ini. Bangsa lain berlomba-lomba menguasai Indonesia hanya untuk mendapatkan hasil dari kekayaan alam kita. Bahkan Inggris dan Jepang sampai ikut-ikutan ingin menguasai sumber daya alam yang terdapat di Indonesia.

Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangat beragam baik itu sumber daya alam hayati maupun hasil tambang. Sumber daya alam hayati terutama sumber daya alam nabati-lah yang sangat dicari atau diinginkan oleh bangsa lain. Mereka berlomba-lomba ingin menguasai tempat-tempat penghasil SDA tersebut.

Sebagai bangsa Indonesia kita seharusnya sadar akan hal ini. Kita yang punya, kita yang jaga. Mengelola SDA tersebut memang sulit tetapi mungkin untuk dikerjakan. Toh, bangsa lain saja bisa, mengapa kita tidak? Kita ambil contoh tambang emas Freeport yang ada di Papua. Mengapa kita memberikan kekuasaan pada Amerika Serikat untuk mengelolanya? Apa kita tidak bisa mengelolanya sendiri? Terbukti akhir-akhir ini sering terdengar protes tentang pengelolaan tambang emas tersebut yang sama sekali tidak menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Salah siapa? Yang pasti awalnya merupakan salah kita sendiri. Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia apakah tidak ada yang bisa mengelola tambang emas tersebut? Kita harus pertanyakan kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Itu artinya Indonesia masih lemah atau sama saja dengan beranggapan biarlah orang lain yang kaya kita miskin saja.

Berbicara tentang sumber daya manusia Indonesia mungkin kita juga masih harus meringis. Begitu sulitnya pemerintah kita merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Padahal suatu bangsa itu tidak dapat maju tanpa didukung kualitas sumber daya manusianya. Untuk mengelola suatu sumber daya alam maka diperlukan manusia yang berkualitas. Pantas saja kita masih kalah jauh dibandingkan dengan negara seperti Jepang ataupun Korea, bahkan dengan Malaysia saja kita masih tertinggal. Mengapa? Karena pemerintah kita kurang mendukung untuk menaikan kualitas sumber daya manusia kita. Seperti yang telah disebutkan di atas, untuk merealisasikan anggaran pendidikan seperti itu saja sulitnya luar biasa.

Selain itu mahalnya biaya untuk bersekolah juga menjadi penghambat terbentuknya manusia berkualitas di Indonesia. Mengambil dari salah satu slogan iklan sebuah produk di Indonesia ‘mau pintar kok mahal, tanya kenapa?’. Mungkin slogan tersebut sepele, tetapi menyimpan makna yang sangat mendalam. Slogan tersebut mempunyai arti bahwa bersekolah itu hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berkantong tebal saja. Yang tidak punya uang dilarang bersekolah. Lucu bukan? Pantas saja negara kita masih kacau. Toh, yang boleh pintar hanya orang-orang yang berduit saja yang belum tentu juga terjamin kualitasnya. Itu juga merupakan salah satu bukti bahwa pemerintah kurang mendukung pendidikan di Indonesia.

Peran guru. Ya, peran guru sangat penting untuk menentukan jalur kesuksesan manusia. Mereka mencurahkan segala ilmu dan pikirannya demi mencerdaskan anak didiknya. Mereka rela hanya ‘menunggang sepeda’ untuk pergi mengajar ketika anak didiknya menggunakan kendaraan bermotor. Seharusnya kita sadar akan hal ini, orang tua kita di sekolah itu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya walaupun terasa sangat melelahkan. apakah tidak terbersit di benak kita untuk memberikan yang terbaik juga bagi mereka?

Nampaknya kebanyakan dari kita menjawab TIDAK. Hal ini bisa kita buktikan dari tidak adanya upaya dari pemerintah untuk mensejahterakan guru atau setidaknya membiarkan guru bekerja dengan tenang tidak memikirkan anaknya yang juga harus bersekolah. Sepertinya pemerintah acuh tak acuh saja terhadap nasib para guru. (padahal mereka juga dulunya diajar oleh guru.). Bahkan baru-baru ini muncul berita tentang ketidakadilan dari salah satu pemerintah kota yang ada di Jawa Barat dalam memberikan tunjangan. Anggota DPRD kota tersebut diberikan tunjangan sebesar 6,3 juta/bulan, sedangkan para guru ‘hanya’ diberi tunjangan sebesar 50ribu perak! Bahkan pembayarannya sering telat pula. Benar-benar tidak adil. Bahkan perbandingan nilainya pun terlalu jauh.

Kita seharusnya mencontoh negara Meksiko. Presiden mereka beserta menteri-menterinya adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka rela memotong gaji mereka sendiri untuk membantu bidang lain di negara tersebut. Pantas saja pemerintah kita tidak pernah melakukan studi banding ke Meksiko. Toh, pejabat kita mana ada yang mau dipotong gajinya sebab pikiran mereka sudah melayang membumbung tinggi bersama uang dan kenaikan gaji setiap tahun.

Mengapa saya terus mengkritik pemerintah? Yah, buktinya saja sudah jelas seperti itu. Seharusnya pemerintah kita berpikir ke depan atau dengan kata lain berivestasi untuk masa depan. Kita kembali lagi ke bahasan tentang dana pendidikan, pemerintah menganggarkan dana sebesar 20% dari APBN itu tentunya sangat baik untuk Indonesia ke depan. Biarlah kita sekarang mengeluarkan dana yang besar untuk pendidikan tetapi nanti 5-10 tahun ke depan kita akan menikmati hasilnya, kita akan memiliki manusia berkualitas asli buatan Indonesia yang tentunya akan sangat bermanfaat. Jangan seperti pada masa pemerintahan Soeharto. Beliau memimpin bangsa ini sampai 32 tahun tanpa ada yang menggantikan. Itu artinya Soeharto tidak bisa mendidik bangsanya untuk menjadi pemimpin.

Dalam hal menghormati guru, Seharusnya kita dapat mencontoh seperti yang ada dalam cerita guru saya ini ketika sedang mengikuti perlombaan di Korea Selatan. Pada saat itu guru saya tersebut sedang mengadakan pertemuan dengan salah seorang warga dari Korea Selatan. Awalnya orang tersebut acuh tak acuh terhadap guru saya. Tetapi kita guru saya mengucapkan bahwa dia adalah seorang guru dari Indonesia, orang tersebut terkejut dan tiba-tiba membungkukan badannya sampai setengah badan untuk memberi hormat. Luar biasa bukan? Cerita tersebut dapat menggambarkan bahwa negara yang maju adalah negara yang sangat menghargai gurunya. Bahkan untuk hal yang mungkin menurut kita sangat sepele.

Apakah kita sudah seperti itu? Nampaknya masih sangat jauh. Terbukti gaji guru kita pun masih sangat minim. Pantas saja ketika saya tanyakan kepada teman-teman saya apa cita-cita mereka kelak, tidak ada satupun yang menjawab ingin menjadi guru. Alasan mereka, gajinya kecil. Loh, bagaimana nanti nasib anak-anak kita bila sekarang tidak ada yang mau menjadi guru? Mau apa bangsa ini tanpa guru? Nah, kalau sudah begitu kita juga kan yang rugi. Sudah saatnya kini Indonesia menempatkan pendidikan di atas segala-galanya. Ayo, majulah Indonesiaku!

No comments:

Post a Comment

rezaalfiandri.blogspot.com

always do right. this will gratify some people and astonish the rest.
mark twain